Home » Pendidikan » Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan

Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan

Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan

Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan

Aliran-Aliran dalam Filsafat Pendidikan
1. Aliran Filsafat pendidikan Progresivisme
Aliran progresivisme mengakui dan berusaha mengembangkan asas progesivisme
dalam sebuah realita kehidupan, agar manusia bisa survive menghadapi semua tantangan
hidup. Dinamakan instrumentalisme, karena aliran ini beranggapan bahwa kemampuan
intelegensi manusia sebagai alat untuk hidup, untuk kesejahteraan dan untuk
mengembangkan kepribadiaan manusia. Dinamakan eksperimentalisme, karena aliran ini
menyadari dan mempraktikkan asas eksperimen untuk menguji kebenaran suatu teori. Dan
dinamakan environmentalisme, Karena aliran ini menganggap lingkungan hidup itu
mempengaruhi pembinaan kepribadiaan. Adapun tokoh-tokoh aliran progresivisme ini,
antara lain, adalah William James, John Dewey, Hans Vaihinger, Ferdinant Schiller, dan
Georges Santayana. Aliran progresivisme telah memberikan sumbangan yang besar di
dunia pendidikan saat ini. Aliran ini telah meletakkan dasar-dasar kemerdekaan dan 11
kebebasan kepada anak didik. Anak didik diberikan kebaikan baik secara fisik maupun cara
berpikir, guna mengembangkan bakat dan kemampuan yang terpendam dalam dirinya tanpa
terhambat oleh rintangan yang dibuat oleh orang lain. Oleh karena itu, filsafat progesivisme
tidak menyetujui pendidikan yang otoriter. John Dewey memandang bahwa pendidikan
sebagai proses dan sosialisasi. Maksudnya sebagai proses pertumbuhan anak didik dapat
mengambil kejadian-kejadian dari pengalaman lingkungan sekitarnya. Maka dari itu,
dinding pemisah antara sekolah dan masyarakat perlu dihapuskan, sebab belajar yang baik
tidak cukup di sekolah saja.Dengan demikian, sekolah yang ideal adalah sekolah yang isi
pendidikannya berintegrasi dengan lingkungan sekitar. Karena sekolah adalah bagian dari
masyarakat. Dan untuk itu, sekolah harus dapat mengupayakan pelestarian karakteristik
atau kekhasan lingkungan sekolah sekitar atau daerah di mana sekolah itu berada. Untuk
dapat melestarikan usaha ini, sekolah harus menyajikan program pendidikan yang dapat
memberikan wawasan kepada anak didik tentang apa yang menjadi karakteristik atau
kekhususan daerah itu. Untuk itulah, fisafat progresivisme menghendaki sisi pendidikan
dengan bentuk belajar “sekolah sambil berbuat” atau learning by doing. Dengan kata lain
akal dan kecerdasan anak didik harus dikembangkan dengan baik. Perlu diketahui pula
bahwa sekolah tidak hanya berfungsi sebagai pemindahan pengetahuan (transfer of
knowledge), melainkan juga berfungsi sebagai pemindahan nilai-nilai (transfer of value),
sehingga anak menjadi terampildan berintelektual baik secara fisik maupun psikis. Untuk
itulah sekat antara sekolah dengan masyarakat harus dihilangkan.

2. Aliran Filsafat pendidikan Esensialisme
Aliran esensialisme merupakan aliran pendidikan yang didasarkan pada nilai-nilai
kebudayaan yang telah ada sejak awal peradaban umat manusia. Esensialisme muncul pada
zaman Renaisance dengan cirri-cirinya yang berbeda dengan progesivisme. Dasar pijakan
aliran ini lebih fleksibel dan terbuka untuk perubahan, toleran, dan tidak ada keterkaitan
dengan doktrin tertentu. Esensiliasme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada
nilai-nilai yang memiliki kejelasan dan tahan lama, yang meberikan kestabilan dan nilai-12
nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. Idealisme, sebagai filsafat hidup, memulai
tinjauannya mengenai pribadi individu dengan menitikberatkan pada aku. Menurut
idealisme, pada tarap permulaan seseorang belajar memahami akunya sendiri, kemudian ke
luar untuk memahami dunia objektif. Dari mikrokosmos menuju ke makrokosmos. Menurut
Immanuel Kant, segala pengetahuan yang dicapai manusia melalui indera memerlukan
unsure apriori, yang tidak didahului oleh pengalaman lebih dahulu. Bila orang berhadapan
dengan benda-benda, bukan berarti semua itu sudah mempunayi bentuk, ruang, dan ikatan
waktu. Bentuk, ruang , dan waktu sudah ada pada budi manusia sebelum ada pengalaman
atu pengamatan. Jadi, apriori yang terarah bukanlah budi pada benda, tetapi benda-benda
itu yang terarah pada budi. Budi membentuk dan mengatur dalam ruang dan waktu. Dengan
mengambil landasan pikir tersebut, belajar dapat didefinisikan sebagai substansi spiritual
yang membina dan menciptakan diri sendiri. Roose L. finney, seorang ahli sosiologi dan
filosof , menerangkan tentang hakikat sosial dari hidup mental. Dikatakan bahwa mental
adalah keadaan ruhani yang pasif, hal ini berarti bahwa manusia pada umumnya menerima
apa saja yang telah ditentukan dan diatur oleh alam sosial. Jadi, belajar adalah menerima
dan mengenal secara sungguh-sungguh nilai-nilai social angkatan baru yang timbul untuk
ditambah, dikurangi dan diteruskan pada angkatan berikutnya.

3. Aliran Filsafat Pendidikan Perenialisme
Perenialisme memandang pendidikan sebagai jalan kembali atau proses
mengembalikan keadaan sekarang. Perenialisme memberikan sumbangan yang
berpengaruh baik teori maupun praktik bagi kebudayaan dan pendidikan zaman sekarang.
Dari pendapat ini diketahui bahwa perenialisme merupakan hasil pemikiran yang
memberikan kemungkinan bagi sseorang untukk bersikap tegas dan lurus. Karena itulah,
perenialisme berpendapat bahwa mencari dan menemukan arah arsah tujuan yang jelas
merupakan tugas yang utama dari filsafat, khususnya filsafat pendidikan. Menurut
perenialisme, ilmu pengetahuan merupakan filsafat yang tertinggi, karena dengan ilmu
pengetahuanlah seseorang dapat berpikir secara induktif. Jadi, dengan berpikir maka 13
kebenaran itu akan dapat dihasilkan. Penguasaan pengetahuan mengenai prinsip-prinsip
pertama adalah modal bagi seseorang untuk mengembangkan pikiran dan kecerdasan.
Dengan pengetahuan, bahan penerangan yang cukup, orang akan mampu mengenal dan
memahami faktor-faktor dan problema yang perlu diselesaikan dan berusaha mengadakan
penyelesaian masalahnya. Diharapkan anak didik mampu mengenal dan mengembangkan
karya-karya yang menjadi landasan pengembangan disiplin mental. Karya-karya ini
merupakan buah pikiran besar pada masa lampau. Berbagai buah pikiran mereka yang oleh
zaman telah dicatat menonjol seperti bahasa, sastra, sejarah, filsafat, politik, ekonomi,
matematika, ilmu pengetahuan alam, dan lain-lainnya, yang telah banyak memberikan
sumbangan kepada perkembangan zaman dulu. Sekolah, sebagai tempat utama dalam
pendidikan, mempersiapkan anak didik ke arah kematangan akal dengan memberikan
pengetahuan. Sedangkan tugas utama guru adalah memberikan pendidikan dan pengajaran
(pengetahuan) kepada anak didik. Dengan kata lain, keberhasilan anak dalam nidang
akalnya sangat tergantung kepada guru, dalam arti orang yang telah mendidik dan
mengajarkan.

4. Aliran Filsafat pendidikan Rekonstruksionisme
Kata Rekonstruksionisme bersal dari bahasa Inggris reconstruct, yang berarti
menyusun kembali. Dalam konteks filsafat pendidikan, rekonstruksionisme merupakan
suatu aliran yang berusaha merombak tata susunan hidup kebudayaan yang bercorak
modern. Aliran rekonstruksionisme pada prinsipnya sepaham dengan aliran perenialisme,
yaitu berawal dari krisis kebudayaan modern. Menurut Muhammad Noor Syam (1985:
340), kedua aliran tersebut memandang bahwa keadaan sekarang merupakan zaman yang
mempumyai kebudayaan yang terganggu oleh kehancuran, kebingungan, dan
kesimpangsiuran. Aliran rekonstruksionisme berkeyakinan bahwa tugas penyelamatan
dunia merupakan tugas semua umat manusia. Karenanya, pembinaan kembali daya
intelektual dan spiritual yang sehat melalui pendidikan yang tepat akan membina kembali
manusia dengan nilai dan norma yang benar pula demi generasi yang akan datang, sehingga 14
terbentuk dunia baru dalam pengawasan umat manusia.Di samping itu, aliran ini memiliki
persepsi bahwa masa depan suatu bangsa merupakan suatu dunia yang diatur dan diperintah
oleh rakyat secara demokratis, bukan dunia yang dikuasai oleh golongan tertentu. Cita-cita
demokrasi yang sesungguhnya tidak hanya teori, tetapi mesti diwujudkan menjadi
kenyataan, sehingga mampu meningkatkan kualitas kesehatan, kesejahteraan dan
kemakmuran serta keamanan masyarakat tanpa membedakan warna kulit, keturunan,
nasionalisme, agama (kepercayaan) dan masyarakat bersangkutan.

5. Aliran Filsafat pendidikan Idealisme
Tokoh aliran idealisme adalah Plato (427-374 SM), murid Sokrates. Aliran
idealisme merupakan suatu aliran ilmu filsafat yang mengagungkan jiwa. Menurutnya, cita
adalah gambaran asli yang semata-mata bersifat rohani dan jiwa terletak di antara gambaran
asli (cita) dengan bayangan dunia yang ditangkap oleh panca indera. Pertemuan antara jiwa
dan cita melahirkan suatu angan-angan yaitu dunia idea. Aliran ini memandang serta
menganggap bahwa yang nyata hanyalah idea. Idea sendiri selalu tetap atau tidak
mengalami perubahan serta penggeseran, yang mengalami gerak tidak dikategorikan ideal.
Keberadaan idea tidak tampak dalam wujud lahiriah, tetapi gambaran yang asli hanya dapat
dipotret oleh jiwa murni. Alam dalam pandangan idealisme adalah gambaran dari dunia
idea, sebab posisinya tidak menetap. Sedangkan yang dimaksud dengan idea adalah hakikat
murni dan asli. Keberadaannya sangat absolut dan kesempurnaannya sangat mutlak, tidak
bisa dijangkau oleh material. Pada kenyataannya, idea digambarkan dengan dunia yang
tidak berbentuk demikian jiwa bertempat di dalam dunia yang tidak bertubuh yang
dikatakan dunia idea.Plato yang memiliki filsafat beraliran idealisme yang realistis
mengemukakan bahwa jalan untuk membentuk masyarakat menjadi stabil adalah
menentukan kedudukan yang pasti bagi setiap orang dan setiap kelas menurut kapasitas
masin-masing dalam masyarakat sebagai keseluruhan. Mereka yang memiliki kebajikan
dan kebijaksanaan yang cukup dapat menduduki posisi yang tinggi, selanjutnya berurutan
ke bawah. Misalnya, dari atas ke bawah, dimulai dari raja, filosof, perwira, prajurit sampai 15
kepada pekerja dan budak. Yang menduduki urutan paling atas adalah mereka yang telah
bertahun-tahun mengalami pendidikan dan latihan serta telah memperlihatkan sifat
superioritasnya dalam melawan berbagai godaan, serta dapat menunjukkan cara hidup
menurut kebenaran tertinggi.Mengenai kebenaran tertinggi, dengan doktrin yang terkenal
dengan istilah ide, Plato mengemukakan bahwa dunia ini tetap dan jenisnya satu,
sedangkan ide tertinggi adalah kebaikan. Tugas ide adalah memimpin budi manusia dalam
menjadi contoh bagi pengalaman. Siapa saja yang telah menguasai ide, ia akan mengetahui
jalan yang pasti, sehingga dapat menggunakan sebagai alat untuk mengukur,
mengklasifikasikan dan menilai segala sesuatu yang dialami sehari-hari. Kadangkala dunia
idea adalah pekerjaan norahi yang berupa angan-angan untuk mewujudkan cita-cita yang
arealnya merupakan lapangan metafisis di luar alam yang nyata. Menurut Berguseon,
rohani merupakan sasaran untuk mewujudkan suatu visi yang lebih jauh jangkauannya,
yaitu intuisi dengan melihat kenyataan bukan sebagai materi yang beku maupun dunia luar
yang tak dapat dikenal, melainkan dunia daya hidup yang kreatif. Aliran idealisme
kenyataannya sangat identik dengan alam dan lingkungan sehingga melahirkan dua macam
realita. Pertama, yang tampak yaitu apa yang dialami oleh kita selaku makhluk hidup dalam
lingkungan ini seperti ada yang datang dan pergi, ada yang hidup dan ada yang demikian
seterusnya. Kedua, adalah realitas sejati, yang merupakan sifat yang kekal dan sempurna
(idea), gagasan dan pikiran yang utuh di dalamnya terdapat nilai-nilai yang murni dan asli,
kemudian kemutlakan dan kesejatian kedudukannya lebih tinggi dari yang tampak, karena
idea merupakan wujud yang hakiki. Prinsipnya, aliran idealisme mendasari semua yang
ada. Yang nyata di alam ini hanya idea, dunia idea merupakan lapangan rohani dan
bentuknya tidak sama dengan alam nyata seperti yang tampak dan tergambar. Sedangkan
ruangannya tidak mempunyai batas dan tumpuan yang paling akhir dari idea adalah arche
yang merupakan tempat kembali kesempurnaan yang disebut dunia idea dengan Tuhan,
arche, sifatnya kekal dan sedikit pun tidak mengalami perubahan. Inti yang terpenting dari
ajaran ini adalah manusia menganggap roh atau sukma lebih berharga dan lebih tinggi
dibandingkan dengan materi bagi kehidupan manusia. Roh itu pada dasarnya dianggap 16
suatu hakikat yang sebenarnya, sehingga benda atau materi disebut sebagai penjelmaan dari
roh atau sukma. Aliran idealisme berusaha menerangkan secara alami pikiran yang
keadaannya secara metafisis yang baru berupa gerakan-gerakan rohaniah dan dimensi
gerakan tersebut untuk menemukan hakikat yang mutlak dan murni pada kehidupan
manusia. Demikian juga hasil adaptasi individu dengan individu lainnya. Oleh karena itu,
adanya hubungan rohani yang akhirnya membentuk kebudayaan dan peradaban baru. Maka
apabila kita menganalisa pelbagai macam pendapat tentang isi aliran idealisme, yang pada
dasarnya membicarakan tentang alam pikiran rohani yang berupa angan-angan untuk
mewujudkan cita-cita, di mana manusia berpikir bahwa sumber pengetahuan terletak pada
kenyataan rohani sehingga kepuasaan hanya bisa dicapai dan dirasakan dengan memiliki
nilai-nilai kerohanian yang dalam idealisme disebut dengan idea.Memang para filosof ideal
memulai sistematika berpikir mereka dengan pandangan yang fundamental bahwa realitas
yang tertinggi adalah alam pikiran. Sehingga, rohani dan sukma merupakan tumpuan bagi
pelaksanaan dari paham ini. Karena itu alam nyata tidak mutlak bagi aliran idealisme.
Namun pada porsinya, para filosof idealisme mengetengahkan berbagai macam pandangan
tentang hakikat alam yang sebenarnya adalah idea. Idea ini digali dari bentuk-bentuk di luar
benda yang nyata sehingga yang kelihatan apa di balik nyata dan usaha-usaha yang
dilakukan pada dasarnya adalah untuk mengenal alam raya. Walaupun katakanlah
idealisme dipandang lebih luas dari aliran yang lain karena pada prinsipnya aliran ini dapat
menjangkau hal-ihwal yang sangat pelik yang kadang-kadang tidak mungkin dapat atau
diubah oleh materi, Sebagaimana Phidom mengetengahkan, dua prinsip pengenalan dengan
memungkinkan alat-alat inderawi yang difungsikan di sini adalah jiwa atau sukma. Dengan
demikian, dunia pun terbagi dua yaitu dunia nyata dengan dunia tidak nyata, dunia
kelihatan (boraton genos) dan dunia yang tidak kelihatan (cosmos neotos). Bagian ini
menjadi sasaran studi bagi aliran filsafat idealisme .Plato dalam mencari jalan melalui teori
aplikasi di mana pengenalan terhadap idea bisa diterapkan pada alam nyata seperti yang ada
di hadapan manusia. Sedangkan pengenalan alam nyata belum tentu bisa mengetahui apa di
balik alam nyata. Memang kenyataannya sukar membatasi unsur-unsur yang ada dalam 17
ajaran idealisme khususnya dengan Plato. Ini disebabkan aliran Platonisme ini bersifat lebih
banyak membahas tentang hakikat sesuatu daripada menampilkannya dan mencari dalil dan
keterangan hakikat itu sendiri. Oleh karena itu dapat kita katakan bahwa pikiran Plato itu
bersifat dinamis dan tetap berlanjut tanpa akhir. Tetapi betapa pun adanya buah pikiran
Plato itu maka ahli sejarah filsafat tetap memberikan tempat terhormat bagi sebagian
pendapat dan buah pikirannya yang pokok dan utama.

6. Aliran Filsafat Pendidikan Realisme
Aliran ini berpendapat bahwa dunia rohani dan dunia materi merupakan hakikat
yang asli dan abadi. Kneller membagi realisme menjadi dua :
1. Realisme rasional, memandang bahwa dunia materi adalah nyata dan berada di luar
pikiran yang mengamatinya, terdiri dari realisme klasik dan realisme religius.
2. Realisme natural ilmiah, memandang bahwa dunia yang kita amati bukan hasil kreasi
akal manusia, melainkan dunia sebagaimana adanya, dan substansialitas,sebab akibat,
serta aturan-aturan alam merupakan suatu penampakan dari dunia itu sendiri. Selain
realisme rasional dan realisme natural ilmiah, ada pula pandangan lain mengenai
realisme, yaitu neo-realisme dan realisme kritis. Neo-realisme adalah pandangan dari
Frederick Breed mengenai filsafat pendidikan yang hendaknya harmoni dengan prinsipprinsip demokrasi, yaitu menghormati hak-hak individu. Sedangkan realisme kritis
didasarkan atas pemikiran Immanuel Kant yang mensintesiskan pandangan berbeda
antara empirisme dan rasionalisme, skeptimisme dan absolutisme, serta eudaemonisme
dengan prutanisme untuk filsafat yang kuat.

7. Aliran Filsafat Pendidikan Materialisme
Aliran ini berpandangan bahwa hakikat realisme adalah materi, bukan spiritual, atau
super natural. Demokritos ( 460-360 SM ) merupakan pelopor pandangan meterialisme
klasik yang disebut juga “ atomisme “ Demokratis beserta para pengikutnya beranggapan 18
bahwa segala sesuatu terdiri dari bagian-bagian kecil yang tidak dapat dibagi-bagi lagi (
yang disebut atom-atom ). Atom merupakan bagian dari yang begitu kecil sehingga mata
kita tidak dapat melihatnya. Atom-atom ini bergerak, sehingga dengan demikian
membentuk realitas pada panca indra kita. Karakteristik umum materialisme pada abad
delapan belas berdasarkan pada suatu asumsi bahwa realitas dapat dikembangkan pada
sifat-sifat yang sedang mengalami perubahan gerak dalam ruang, asuksi tersebut
menunjukkan bahwa : 1) Semua sains biologi, kimia, psikologi, fisika, sosiologi, ekonomi,
dan yang lain ditinjau dari dasar fenomena materi yang berhubungan secara kausal ( sebab
akibat ). Jadi, semua sains merupakan cabang dari sains mekanika. 2) Apa yang dikatakan
jiwa ( mind ) dan segala kegiatannya ( berfikir, memahami ) adalah merupakan suatu
gerakan yang kompleks dari otak, sistem urat saraf, atau organ-organ jasmani yang
lainnya.3) Apa yang disebut dengan nilai dan cita-cita, makna dan tujuan hidup, keindahan
dan kesenangan, serta kebebasan hanyalah sekedar nama-nama atau semboyan.

8. Aliran Filsafat Pendidikan Pragmatisme
Dipandang sebagai filsafat Amerika asli. Namun sebenarnya berpangkal pada
filsafat empirisme Inggris, yang berpendapat bahwa manusia dapat mengetahui apa yang
manusia alami. Beberapa tokoh yang menganut filsafat ini adalah: Charles sandre Peirce,
wiliam James, John Dewey, Heracleitos. Abad ke-19 menghasilkan tokoh-tokoh pemikir,
diantaranya ialah Karl Marx (1818-1883) di kontinen Eropa dan William James (1842-
1910) di kontinen Amerika. Kedua pemikir itu mengklaim telah menemukan kebenaran.
Marx, yang terpengaruh positivisme, melahirkan sosialisme dan James, seorang relativis,
melahirkan pragmatisme. Baik sosialisme maupun pragmatisme dimaksudkan supaya
kemanusiaan dapat menghadapi masalah besar, yaitu industrialisasi dan pertumbuhan
ekonomi. Arti umum dari pragmatisme ialah kegunaan,kepraktisan, getting things
done.Menjadikan sesuatu dapat dikerjakan adalah kriteria bagi kebenaran. James
berpendapat bahwa kebenaran itu tidak terletak di luar dirinya, tetapi manusialah yang
menciptakan kebenaran. It is useful because it is true, it is true because it is useful. Karena 19
kriteria kebenaran itulah, pragmatisme sering dikritik sebagai filsafat yang mendukung
bisnis dan politik Amerika. Dengan adanya pragmatisme tidak ada sosialisme di Amerika.
(Ada memang Partai Komunis Amerika dan toko-toko buku Marxisme. Tetapi, baik
sosialisme maupun komunisme tidak pernah diperhitungkan dalam dunia politik). Kaum
buruh Amerika juga menjadi pendukung kapitalisme karena mereka ikut berkepentingan.
Hampir-hampir tidak ada ada kritik terhadap kapitalisme, kecuali dari gerakan The New
Left pada akhir 1960-an dan awal 1970-an.

9. Aliran Filsafat Pendidikan Eksistensialisme
Eksistensialisme adalah aliran filsafat yg pahamnya berpusat pada manusia
individu yang bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara
mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar. Sebenarnya bukannya tidak
mengetahui mana yang benar dan mana yang tidak benar, tetapi seorang eksistensialis sadar
bahwa kebenaran bersifat relatif, dan karenanya masing-masing individu bebas menentukan
sesuatu yang menurutnya benar. Eksistensialisme adalah salah satu aliran besar dalam
filsafat, khususnya tradisi filsafat Barat. Eksistensialisme mempersoalkan keber-Ada-an
manusia, dan keber-Ada-an itu dihadirkan lewat kebebasan. Pertanyaan utama yang
berhubungan dengan eksistensialisme adalah melulu soal kebebasan. Apakah kebebasan
itu? bagaimanakah manusia yang bebas itu? dan sesuai dengan doktrin utamanya yaitu
kebebasan, eksistensialisme menolak mentah-mentah bentuk determinasi terhadap
kebebasan kecuali kebebasan itu sendiri. Dalam studi sekolahan filsafat eksistensialisme
paling dikenal hadir lewat Jean-Paul Sartre, yang terkenal dengan diktumnya “human is
condemned to be free”, manusia dikutuk untuk bebas, maka dengan kebebasannya itulah
kemudian manusia bertindak. Pertanyaan yang paling sering muncul sebagai derivasi
kebebasan eksistensialis adalah, sejauh mana kebebasan tersebut bebas? atau “dalam istilah
orde baru”, apakah eksistensialisme mengenal “kebebasan yang bertanggung jawab”? Bagi
eksistensialis, ketika kebebasan adalah satu-satunya universalitas manusia, maka batasan
dari kebebasan dari setiap individu adalah kebebasan individu lain. Namun, menjadi 20
eksistensialis, bukan melulu harus menjadi seorang yang lain-daripada-yang-lain, sadar
bahwa keberadaan dunia merupakan sesuatu yang berada diluar kendali manusia, tetapi
bukan membuat sesuatu yang unik ataupun yang baru yang menjadi esensi dari
eksistensialisme. Membuat sebuah pilihan atas dasar keinginan sendiri, dan sadar akan
tanggung jawabnya dimasa depan adalah inti dari eksistensialisme. Sebagai contoh, mau
tidak mau kita akan terjun ke berbagai profesi seperti dokter, desainer, insinyur, pebisnis
dan sebagainya, tetapi yang dipersoalkan oleh eksistensialisme adalah, apakah kita menjadi
dokter atas keinginan orang tua, atau keinginan sendiri.

Did you like this? Share it:

About admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>